Earlier
Hukum Mencerai Istri Saat Hamil Tanya: Mencerai istri saat hamil itu sah ngga ya ..? Dari : Ahmad J, di Jogjakarta. Jawaban : Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam'ala Rasulillah, waba'du. Sebelumnya, cerai (talak) dalam Islam terbagi dua macam : Talak Sunni, yaitu talak yang dilakukan sesuai prosedur syariat. Talak Bid'i, yaitu talak yang tidak sesuai prosedur syariat. Mentalak istri saat hamil tergolong talak sunni atau bid'i? Mari kita simak penjelasan salah seorang ulama pakar fikih, Syekh Prof. Khalid Al Musyaiqih berikut : طلاق الزّوجة الحامل ليس طلاقاً بدعياً بل هو طلاق شرعي حتى لو جامعتها، لما ثبت في صحيح مسلم أنّ النّبي صلى الله عليه وسلم قال لعبد الله بن عمر لما طلّق امرأته وهي حائض: “راجعها ثم امسكها حتى تطهر، ثم تحيض ثم تطهر ثم طلقها إن شئت طاهراً قبل أن تمسها أو حاملاً” وهذا باتفاق العلماء، وأمّا ما اشتهر عند العوام من أنّ الحامل لا طلاق عليها فهو غير صحيح. Mentalak istri saat hamil tidak tergolong talak bid'i. Bahkan itu tergolong talak yang syar'i (talak sunni) sampaipun dilakukan setelah suami menyetubuhinya. Hal ini berdasarkan hadis yang terdapat di Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ berpesan kepada Abdullah bin Umar saat dia menceraikan istrinya ketika haid, راجعها ثم امسكها حتى تطهر، ثم تحيض ثم تطهر ثم طلقها إن شئت طاهراً قبل أن تمسها أو حاملاً “Rujuklah kepada istrimu yang sudah kamu cerai itu. Tetaplah bersamanya sampai dia suci dari haid, lalu haid kembali kemudian suci lagi. Setelah itu silahkan kalau kamu mau mencerainya : bisa saat istri suci sebelum kamu gauli, atau saat dia hamil.” Bahkan para ulama sepakat, boleh mencerai istri saat kondisinya hamil. Adapun anggapan yang tersebar di tengah masyarakat awam, bahwa wanita hamil tidak sah dicerai, adalah anggapan yang keliru. (Sumber: https://ar.islamway.net/fatwa/54859/حكم-طلاق-الحامل) Bahkan suatu talak disebut sunni, manakala terjadi pada dua kondisi: Pertama, dilakukan saat wanita sedang hamil. Kedua, dilakukan saat wanita berada dalam kondisi suci (tidak sedang haid atau nifas), sebelum disetubuhi. Dalil yang mendasari ini adalah firman Allah ta'ala, يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya. (QS. At-Thalaq : 1) Allah memerintahkan jika memang cerai adalah pilihan tepat karena menimbang maslahat yang kuat, maka silahkan lakukan cerai itu saat wanita sedang berada dalam masa ‘iddah. Hamil adalah salah satu waktu iddah untuk wanita yang dicerai, berakhir saat wanita tersebut melahirkan. Menunjukkan, talak yang terjadi saat wanita hamil, adalah talak sunni. Penjelasan rinci tentang ‘iddah, bisa pembaca pelajari di sini : https://muslimah.or.id/1809-talak-bagian-8-iddah.html Syekh Ibnu Baz rahimahullah menerangkan, قال العلماء: معناه: طاهرات من غير جماع. هذا معنى التطليق للعدة: أن يطلقها وهي طاهر لم يمسها، أو حبلى قد ظهر حملها، هذا محل السنة Para ulama menerangkan, “Makna ayat (At-Thalaq ayat 1) di atas adalah : lakukanlah cerai saat wanita sedang suci dan belum disetubuhi. Inilah makna mencerai wanita saat berada dalam masa iddah, yakni mencerai istri saat suci belum disetubuhi, atau mencerainya saat sedang hamil dan telah tampak kehamilannya. Inilah yang disebut talak sunni. (Sumber : https://binbaz.org.sa/fatwas/4178/حكم-طلاق-الحامل) Adapun talak disebut bid'i, manakala dilakukan pada empat keadaan: Pertama, saat wanita haid. Kedua, saat nifas Ketiga, saat suci namun setelah disetubuhi. Keempat, cerai tiga sekaligus dengan sekali ucapan. Kesimpulannya, mencerai saat istri sedang hamil, jika karena pertimbangan maslahat yang kuat, hukumnya boleh dan sah. Demikian, wallahua'lam bis showab… *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 [...]
Fri, Feb 15, 2019
Source: Konsultasisyariah.com Category: KONSULTASISYARIAH.COM
Hukum Main Bola Kelihatan Lutut Tanya ust, apa hukum memakai katok bola yg kelihatan lutut? Jawaban : Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba'du. Jawaban masalah ini kembali pada pembahasan : Apakah lutut termasuk aurat atau bukan? Mayoritas ulama berpandangan bahwa lutut demikian pula pusar bukan termasuk aurat laki-laki. Statusnya hanya sebagai pembatas aurat. Yang dihukumi sebagai aurat laki-laki adalah, antara lutut dan pusar. Pendapat ini insyallah, adalah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. (Lihat : Fatawa Syabakah Islamiyah no. 19890) Dalil yang mendasari ini, adalah hadis dari sahabat Abu Musal Al-Asy'ari, beliau bercerita, أن النبي صلى الله عليه وسلم كان قاعداً في مكان فيه ماء قد انكشف عن ركبته أو ركبتيه فلما دخل عثمان غطاها Nabi ﷺ pernah duduk di suatu tempat yang ada airnya. Saat itu salah satu atau kedua lutut beliau tersingkap. Ketika Umar mendekat ke beliau, Nabi shalallahu alaihi wa sallam menutupi lutut beliau. (HR. Bukhari) Imam Nawawi rahimahullah menegaskan, في عورة الرجل خمسة أوجه : “الصحيح المنصوص” أنها ما بين السرة والركبة , وليست السرة والركبة من العورة. Berkenan masalah aurat laki-laki, ada lima pendapat dalam mazhab Syafi'i. Namun pendapat yang tepat dan yang menjadi pendapat Imam Syafi'i : aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Pusar dan lutut itu sendiri tidak teranggap sebagai aurat. (Al Majmu' Syarhi Al Muhadzdzab, 3/173). Kesimpulannya, lutut tidak termasuk aurat. Namun meski demikian kami sarankan saat main bola memakai celana olahraga yang menutupi lutut. Karena saat bermain bola, aurat rawan tersingkap. Sementara memperlihatkan aurat, adalah tindakan yang sangat diharamkan dalam Islam, walaupun kepada sesama jenis. Allah berfirman, قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ* وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. (QS. An-Nur : 30-31) Nabi ﷺ pernah mengingatkan, احفَظْ عورَتَك؛ إلا من زَوْجتِك، أو ما مَلَكَتْ يَمينُك Jagalah auratmu; jangan sampai terlihat. Kecuali oleh istrimu atau budak wanitamu. (HR. Abu Dawud). Beliau ﷺ juga bersabda, لا ينظر الرجل إلى عورة الرجل ولا المرأة إلى عورة المرأة ولايفضي الرجل إلى الرجل في ثوب واحد ولا تفضي المرأة إلى المرأة في الثوب الواحد “Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain. Demikian pula wanita tidak boleh melihat aurat wanita lainnya. Janganlah seorang lelaki berkumpul dengan laki-laki lain dalam satu selimut dan janganlah pula seorang wanita berkumpul dengan wanita lain dalam satu selimut.” (HR. Muslim). Bahkan jika memakai celana olahraga yang menutupi lutut saat bermain bola, kita katakan wajib, itu sangat wajar. Karena ada sebuah kaidah fikih menyatakan, ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب “Jika sebuah kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib pula hukumnya.” Menutup aurat adalah kewajiban. Sementara saat bermain bola dengan memakai celana yang nge-pas sampai lutut, rawan tersingkap aurat. Sehingga menutup aurat saat seperti itu tidak dapat dilakukan, kecuali dengan memakai celana olahraga yang menutupi lutut. Hal ini menunjukkan bahwa memakai celana olahraga yang menutupi lutut, saat bermain bola adalah kewajiban. Demikian.. Wallahua'lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran. DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-98 [...]
Wed, Feb 13, 2019
Source: Konsultasisyariah.com Category: KONSULTASISYARIAH.COM
Sedikit Sombong Ngga' Masuk Surga? Assalamualaikum maaf ustadz saya mau bertanya maksut dari hadis ini : “tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi.” Bisa dijelaskan sombong yang bagaimana dan dalam hal apa saja? Dari : Supanjaya, di Prabumulih. Jawaban : Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam'ala Rasulillah, waba'du. Hadis yang dimaksud adalah hadis sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim) Makna sombong yang dimaksud, diterangkan pada kelanjutan hadis, saat seorang sahabat bertanya kepada Nabi, إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله حسنةً “Bagaimana jika seorang suka bajunya bagus, sendalnya bagus…?” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس “Sungguh Allah itu Maha Indah, dan mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain.” (HR. Muslim) Saat telah tampak jelas kebenaran dalam pandangannya, ayatnya jelas, hadisnya jelas, namun dia tetap saja enggan mengalahkan egonya, untuk tunduk pada kebenaran, inilah sombong. Saat seorang memandang dirinya berada di atas orang lain, lebih mulia dari orang lain, lebih sempurna dari yang lain, kemudian memandang selainnya rendah dan hina, itulah sombong. Siapa yang dalam hatinya ada sedikit saja sifat ini, maka tidak masuk surga. Nas-alullah as salaamah.. semoga Allah menghindarkan kita dari sifat seperti ini. Tidak Masuk Surga Selamanya? Namun, ancaman “tidak masuk surga”, dalam hadis tentang sombong di atas, dan hadis-hadis lainnya yang menerangkan sebuah dosa besar/maksiat, kemudian diancam tidak masuk surga, maknanya adalah, tidak masuk surga secara langsung, yang tanpa azab dan hisab. Bukan tidak masuk surga selamanya. Karena ancaman berupa tidak masuk surga yang terdapat dalam Al Qur'an atau hadis, memiliki dua makna : Pertama, tidak masuk surga selamanya (tahrim abadi). Artinya, akan berada dalam neraka selamanya, tak akan pernah masuk Surga. Inilah nasibnya orang-orang kafir atau musyrik. Kedua, tidak masuk surga sementara (tahrim mu-aqqot). Dia mampir sementara di neraka, untuk dibersihkan dosanya. Kemudian jika telah tiba saatnya dia sudah pantas masuk surga, Allah akan masukkan dia ke dalam surga. Atau dia berpeluang lain yang lebih beruntung, bisa jadi dengan kemurahan dan kasih sayang Allah, dia diampuni dosanya sehingga tidak perlu mampir di neraka, langsung masuk surga. Inilah yang berlaku pada orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar. (Lihat : I'lam Al Anam karya Syekh Sholih Al Fauzan, hal. 62) Dengan membagi seperti ini, terbantahkanlah akidah orang-orang Khawarij, yang memaknai ancaman pada hadis di atas dan yang semisalnya, sebagai ancaman kekal di neraka. Sehingga mereka mengkafirkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar. Padahal Allah berfirman, إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni apa dosa di bawah syirik (dosa besar) bagi siapa yang Dia kehendaki. (QS. An-Nisa' : 48) “…bagi siapa yang Dia kehendaki” menunjukkan bahwa, dosa yang levelnya di bawah syirik, yaitu dosa besar, kemudian dibawa mati; belum sempat ditaubati, nasib pelakunya di akhirat di bawah kehendak Allah. Artinya jika Allah berkehendak mengazabnya dulu, maka dia akan mampir di neraka. Namun jika berkehendak lain karena rahmad dan kasih sayangNya; dia diampuni dosanya dan langsung masuk surga. Inilah diantara yang mendasari akidah Ahlussunah terkait pelaku dosa besar. Yang mendapat ancaman kekal di neraka, hanyalah pelaku dosa syirik/kafir. Merekalah yang dosanya tidak diampuni oleh Allah, sehingga berada kekal selamanya di neraka. Na'udzubillah min dzalik.. Kesimpulan ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah saat menjelaskan hadis di atas, الظاهر ما اختاره القاضي عياض وغيره من المحققين، أنَّه لا يدخل الجنة دون مجازاة إن جازاه. وقيل: هذا جزاؤه لو جازاه، وقد يتكرم بأنه لا يجازيه، بل لا بد أن يدخل كل الموحدين الجنة إمَّا أولًا، وإمَّا ثانيًا بعد تعذيب بعض أصحاب الكبائر الذين ماتوا مصرين عليها. Penjelasan yang tepat (untuk makna hadis di atas) adalah yang dipilih oleh Qodhi ‘Iyadh dan yang lainnya dari kalangan ulama (muhaqqiq), bahwa maksud tidak masuk surga adalah tidak masuk surga yang tanpa melalui proses azab, jika dia dikehendaki akan diazab dulu. Atau bisa dikatakan : ini balasannya jika memang dia dikehendaki Allah akan dibalas. Karena terkadang orang seperti ini, mendapatkan kemurahan Allah sehingga dosanya tidak diganjar. Bahkan orang-orang yang bertauhid, pasti masuk surga. Bisa jadi masuk surga pertama (yang tanpa azab dan hisab), atau kloter berikutnya setelah sebagian pelaku dosa besar yang meninggal membawa dosa besar yang belum dia taubati mendapat azab. (Lihat : Syarah Shahih Muslim, karya Imam Nawawi, 1/79). Wallahua'lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 [...]
Mon, Feb 11, 2019
Source: Konsultasisyariah.com Category: KONSULTASISYARIAH.COM
Jika Bertaubat, Dosa Berubah Menjadi Pahala? Ustadz,,, bagaimana klw kita melakukan dosa besar! Lalu bertobat apakah dosa tadi berubah menjadi pahala ataukah sekedar di ampuni saja, dan apakah di hari kiamat nanti perbutan dosa yg tadi masih di pertangung jawabkan??? Dari : Saka Biril Muta'alli, di Prabumulih. Jawaban : Bismillah, walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba'du. Dosa yang sudah ditaubati dengan jujur dan memenuhi syarat taubat, maka Allah akan menghapus dosa itu. Tidak lagi menjadi petaka di hari kiamat kelak. Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( قال الله تبارك وتعالى : ” يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار ، وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم ) Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman , ”Wahai hamba-hamba Ku… sesungguhnya kalian berbuat dosa sepanjang siang dan malam. Dan Aku mengampuni dosa seluruhnya, maka memohon ampunlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu.” (HR. Muslim) Apakah diganti menjadi pahala? Allah berfirman : إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal Sholih, mereka itulah orang-orang yang dosanya diganti oleh Allah menjadi kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Furqan : 70) Ada dua tafsiran ayat di atas, terkait kapan terjadi penggantian dosa menjadi kebaikan? Tafsiran pertama : Penggantian dosa menjadi kebaikan yang disinggung dalam ayat di atas, terjadi di dunia. Artinya Allah akan ganti dosa yang sudah ditaubati itu dengan taufik, hidayah dan kemudahan melakukan amal baik. Allah mudahkan dia untuk menjadi sholih setelah dulu dia bergelimang dosa. Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma menjelaskan makna ayat ini, ( فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ) قال: هم المؤمنون كانوا قبل إيمانهم على السيئات, فرغب الله بهم عن ذلك, فحوّلهم إلى الحسنات, وأبدلهم مكان السيئات حسنات. Mereka itulah orang-orang yang dosanya diganti oleh Allah menjadi kebaikan, maksudnya adalah orang-orang beriman yang dahulu pernah bergelimang dosa. Setelah mereka bertaubat, Allah jadikan mereka benci terhadap dosa-dosa tersebut. Lalu Allah alihkan mereka untuk beramal kebajikan. Dan Allah ganti dosa-dosa yang dulu menjadi amal-amal berpahala. (Lihat : Tafsir At Thobari 17/516). Imam at Thobari menukil sebuah riwayat yang menceritakan sebab turunnya ayat ini. Didalamnya diceritakan bahwa saat Wahsyi dan rekan-rekannya berkata, كيف لنا بالتوبة, وقد عبدنا الأوثان, وقتلنا المؤمنين, ونكحنا المشركات “Bagaimana bisa kami bertaubat, sementara dulu kami menyembah berhala, membunuh orang-orang beriman dan menikahi wanita-wanita musyrik?” Lalu Allah menurunkan ayat ini… فأبدلهم الله بعبادة الأوثان عبادة الله, وأبدلهم بقتالهم مع المشركين قتالا مع المسلمين للمشركين, وأبدلهم بنكاح المشركات نكاح المؤمنات. Kemudian mereka yang dulu menyembah berhala, Allah ganti menjadi menyembah hanya kepada Allah. Mereka yang dulu berperang dalam barisan pasukan kaum musyrikin, Allah ganti menjadi mereka perang bersama kaum muslimin, melawan kaum musyrikin. Yang dulu nikah dengan wanita-wanita musyrik, Allah ganti istri mereka dengan wanita-wanita beriman. (Lihat : Tafsir At Thobari 17/517) Tafsiran kedua : Penggantian dosa terjadi di hari kiamat. Maksudnya adalah dosa-dosa yang sudah ditaubati, nanti di hari perhitungan dan penimbangan amal, akan berubah menjadi kebaikan yang memberatkan timbangan amal kebaikan. Jadi misal dulu seorang pernah mabok, pernah judi, kemudian dia bertaubat dengan jujur kepada Allah. Maka dosa judi dosa mabok yang sudah dua taubati tersebut, berubah menjadi pemberat timbangan amal kebaikan di hari kiamat kelak. Namun sekali lagi denga syarat : bertaubat yang sebenarnya; memenuhi syarat taubat. Baca : Bagaimanakah Cara Bertaubat? Diantara yang berpandangan seperti ini adalah Imam Sa'id bin Musayyib rahimahullah, beliau menyatakan, ( فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ) قال: تصير سيئاتهم حسنات لهم يوم القيامة. Mereka itulah orang-orang yang dosanya diganti oleh Allah menjadi kebaikan, maksudnya adalah dosa-dosa mereka kelak akan menjadi pahala kebaikan di hari kiamat kelak. (Lihat : Tafsir At Thobari 17/519) Mana Pendapat yang Kuat? Dari dua pendapat di atas, pendapat yang kedua insyaallah lebih kuat. Ulama yang menguatkan mendapat ini adalah Imam Ibnu Jarir At Tobari dan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahumallah-. Alasannya adalah sebagai berikut : Pertama, selamanya dzat keburukan tetaplah keburukan. Tak akan pernah berubah menjadi kebaikan. Tidak mungkin dzat dosa berubah menjadi pahala. Karena jika kita katakan demikian, tentu orang-orang yang dulunya kafir, kemudahan memeluk Islam, kekafiran dan kesyirikan yang dia lakukan dulu, di hari kiamat akan berubah menjadi dzat pahala, berupa iman yang memberatkan timbangan kebaikan. Pemahaman seperti ini kata Imam Thobari -rahimahullah- وذلك ما لا يقوله ذو حجا…. tidak akan disimpulkan oleh orang-orang yang memiliki dalil atau argumen yang kuat. (Lihat : Tafsir at-Thobari 17/520) Yang paling mungkin perubahan tersebut terjadi pada sifat. Jadi yang dulunya musyrik Allah ubah jadi muslim bertauhid, yang dulunya mudah jatuh dalam dosa, Allah ubah jadi orang bertakwa gemar beramal sholih. Kedua, pahala dan dosa adalah balasan (hasil) dari sebuah usaha. Sementara hasil tidak akan berubah kecuali karena adanya perubahan pada sebabnya. Pahala (hasil) ==> balasan dari amalan baik (sebab) Dosa (hasil) ==> balasan dari amalan buruk (sebab) Karena hakikat pahala dan dosa adalah hasil dari sebuah sebab yaitu amal baik atau buruk. Hasil itu berubah karena sebabnya juga berubah. Sehingga, makna keburukan (dosa) diubah menjadi kebaikan (pahala), adalah berawal dari perubahan pada sebabnya. Jika dipahami bahwa dzat dosa berubah menjadi dzat pahala begitu saja, maka kita telah mengabaikan pengaruh sebab. Padahal sudah menjadi sunnatullah di alam ini, bahwa adanya musabab (hasil) adalah karena dampak dari sebab. Oleh karenanya para ulama menjelaskan, seorang yang tidak pernah terbetik keinginan melakukan dosa, tidak dikatakan telah meninggalkan dosa sehingga berhak mendapatkan pahala meninggalkan dosa. Seorang yang tak pernah terbesit sedikitpun keinginan untuk berzina, maka tidak otomatis mendapat pahala meninggalkan dosa zina. Karena tidak adanya usaha meninggalkan dosa atau perjuangan melawan hawa nafsu. Jika tidak dikatakan demikian, tentu semua orang otomatis meraup banyak pahala karena meninggalkan dosa-dosa. Mengapa demikian? Karena tidak adanya sebab, yaitu upaya melawan hawa nafsu. Lantas apa gerangan sebab yang mempengaruhi berubahnya keburukan menjadi kebaikan? Yaitu taubat itu sendiri, demikian pula penyesalan, tekad, dan rasa takutnya kepada murka Allah. Dari sinilah sumber perubahan keburukan menjadi kebaikan. Taubat adalah sebab penghapus dosa. Bersamaan dengan itu, taubat itu sendiri juga bernilai ibadah yang sangat besar pahalanya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, وقد محت التوبة أثر الذنب ، وخلفه هذا الندم والعزم، وهو حسنة قد بدلت تلك السيئة حسنة. Taubat telah menghapus dampak-dampak dosa. Di balik taubat itu ada penyesalan dan tekat untuk tidak mengulangi dosa, itulah kebaikan yang telah mengubah keburukan (dosa yang dulu dilakukan) menjadi kebaikan. (Lihat : Thoriqul Hijrotain hal. 250) Wallahua'lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM [...]
Thu, Feb 07, 2019
Source: Konsultasisyariah.com Category: KONSULTASISYARIAH.COM
Berlindung Dari Empat Fitnah yang Membahayakan عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه مسلم) Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullahi ﷺ bersabda, :Apabila diantara kalian telah tasyahud akhir, maka berlindunglah kepada Allah dari empat hal, , beliau mengucapkan “ALLAHUMMA INNI A'UDZUBIKA MIN ‘ADZABI JAHANNAM, WA MIN ‘ADZABILQABRI, WA MIN FITNATILMAHYA WALMAMATI, WA MIN SYARRI FITNATIL MASIHIDDAJJAL.” Artinya: Ya Allah aku berlindung kepadamu dari siksa Jahannam, siksa kubur, dari fitnahnya kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnahnya Al Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim, N0. 588) Penjelasan hadis: Nabi ﷺ menganjurkan pada sahabat untuk berdoa dan berlindung dari 4 hal sebelum salam. Karena diakhir shalat sebelum salam waktu makbulnya doa, sebagaimana penjelasan nabi قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات “Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib” (HR. Tirmidzi, 3499) Diantara lafadz doa yang diajarkan adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis diatas. Namun beberapa ulama berbeda pendapat mengenai hukum berdoa perlindungan ini. Diantara ulama ada yang mewajibkannya sebagaimana yang diriwayatkan dari Thawus rahimahullah.. قَالَ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ : بَلَغَنِي أَنَّ طَاوُسًا قَالَ لاِبْنِهِ : أَدَعَوْتَ بِهَا فِي صَلاَتِكَ ؟ فَقَالَ : لاَ ، قَالَ : ” أَعِدْ صَلاَتَكَ Berkata Muslim bin Al Hajjaj rahimahullah, telah sampai padaku ketika Thawus berkata kepada anaknya, “Apakah engkau berdoa dengannya (doa berlindung 4 hal, pen) setelah shalat?” Maka anaknya menjawab, “Tidak”, lalu Thawus berkata,” Ulangi shalatmu!” Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, Ketika Thawus memerintahkan anaknya yang tidak berdoa dari perlindungan ini untuk mengulangi shalatnya, ini menunjukkan begitu pentingnya doa ini, dan secara dhahir perkataan Thawus rahimahullah (ketika memerintahkan anaknya mengulangi shalat) mengandung hukum wajib. Maka wajib mengulang shalat bagi yang mengikuti fatwanya. Sedangkan jumhur ulama dalam masalah ini adalah sunnah, bukan wajib. (Syarah An-Nawawi 89/5) Namun yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, yang mengatakan hukumnya sunnah.Bahwasanya ketika thawus memerintahkan anaknya untuk mengulangi shalat karena dalam rangka mendidik anaknya, bukan untuk orang shalat pada umumnya Abul ‘Abbas Alqurthubi rahimahullah mengatakan Maksudnya adalah ketika thawus memerintahkan anaknya mengulangi shalat karena bersifat teguran atasnya, dengan alasan jangan sampai anaknya mengabaikan doa ini, lalu meninggalkannya, sehingga tidak dapat mengambil faidah dan mendapatkan pahala dari doa ini. (Almafuhum lamaa ‘ushkil min talkhis kitabi muslim: 2 / 209) Penjelasan Mengapa Harus Berlindung Dari Empat Hal ini? Berlindung dari dari siksaan neraka jahannam اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ Ya allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam Rahasia Nabi ﷺ menempatkan urutan pertama berlindung dari adzab Jahannam karena neraka bagian dari akhirat dimana lamanya waktu 1:1000 dari waktu di dunia. Sebagaimana dalam hadis nabi, (يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ) “Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” Dan ini dipertegas oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya, وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47). Adapun orang kafir di akhirat dua kali lebih lama disbanding orang beriman, Allah Ta'ala berfirman, فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun (QS. Al Ma'arij: 4) Begitu lamanya waktu di akhirat, kondisi ini akan diperparah ketika seseorang masuk ke dalam seburuk-buruk tempat yaitu neraka jahanam إنها سآءت مستقراً ومقاماً “Sesungguhnya neraka Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (QS. Al-Furqan: 66). Keadaan Neraka Jahannam Abu Hurairah mengatakan, كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- " تَدْرُونَ مَا هَذَا . قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا . “Kami dulu pernah bersama Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi ﷺ lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi ﷺ kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini. [HR. Muslim 5082] Ukuran Fisik Penduduk Neraka Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, ما بين منكبي الكافر في النار مسيرة ثلاثة أيام للراكب المسرع “Jarak antara dua ujung pundak orang kafir di dalam neraka sejauh perjalanan 3 hari yang ditempuh penunggang kuda yang larinya cepat.” (HR. Bukhari 6551 Muslim 2852) An-Nawawi mengatakan, هَذَا كُلُّهُ لِكَوْنِهِ أَبْلَغَ فِي إِيلَامِهِ وَكُلُّ هَذَا مَقْدُورٌ لِلَّهِ تَعَالَى يَجِبُ الْإِيمَانِ بِهِ لِإِخْبَارِ الصَّادِقِ بِهِ Ini semua bertujuan agar lebih maksimal dalam menyiksanya. Dan ini semua di bawah kekuasaan Allah Ta'ala, yang wajib kita imani, mengingat adanya berita dari ash-Shodiq (Nabi Muhammad ﷺ) tentang hal ini (Syarh Shahih Muslim, 17:186). Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, إن الرجل من أهل النار ليعظم للنار، حتى يكون الضرس من أضراسه كأحد “Sesungguhnya orang penduduk neraka akan membesar ketika masuk neraka, sampai gigi gerahamnya sebesar gunung Uhud.” (HR. Ahmad 32:13, Syuaib al-Arnauth mengatakan, ‘Sanadnya maushul' dan statusnya seperti sabda Nabi ﷺ). Berlindung dari Adzab Kubur وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu) Dan dari siksa kubur Adzab kubur begitu mengerikan, bahkan orang kafir akan ditampakkan oleh Allah ‘azza wa jalla neraka tiap harinya. Sebagaimana firaun dan bala tentaranya وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46) “Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“.” (QS. Al Mu'min: 45-46) “Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. … Pendapat inilah yang dipilih oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Maqotil, Muhammad bin Ka'ab. Mereka semua mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur di dunia.” (Al Jaami' Li Ahkamil Qur'an, 15/319) Allah Ta'ala berfirman يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Al [...]
Mon, Jan 28, 2019
Source: Konsultasisyariah.com Category: KONSULTASISYARIAH.COM